SPIRITUALITAS POLITIK SEBAGAI SUMBER KEKUATAN PARTAI NUSANTARA BERSATU👍


Jakarta, SKJENIUS.COM.- Dalam kitab Negarakertagama dikisahkan bagaimana raja besar Majapahit, Hayam Wuruk, mengelilingi negaranya dengan tiap kali ziarah ke candi-candi nenek moyangnya (yang titisan dewa-dewa). Di sini kekuasaan raja besar itu dihubungkan dengan kekuatan transenden yang sedikit banyak mutlak. Kekuatan manusia yang terbatas perlu kekuatan lain yang tidak terbatas. Sementara itu, dalam kitab Arjuna Wiwaha dikisahkan bagaimana Arjuna bertapa di tengah hutan untuk dapat mencapai kekuasaan politik atas keluarga Kurawa. Mengapa tidak latihan perang saja daripada bertapa? 

Demikian juga, Riwayat Turun Temurun dalam Keluarga kami yang mengisahkan tentang Syaikh Tuanku Nan Renceh yang legendaris itu, adalah Mamak  (Paman) dari Haji Ahmad, Suami Nenek Moyang kami Puti Sari Banun, yang mana sebelum mengadakan Gerakan Padri, Tuanku Nan Renceh belajar Ilmu Thariqat Syathariyyah di dalam bimbingan Guru Mursyid Syaikh Tunaku Nan Tuo, Cangking, Luhak Agam. Beliau belajar Ilmu Mengenal Diri (Tasawuf) selama bertahun sebelum memulai pergerakan Beliau dalam Jihad Mengusir Penjajah Belanda. Sehingga sampai hari ini pun masih kita dengar kisah tentang “Kesaktian”  atau Kekuaan Spiritual Tuanku nan Renceh sebagai Panglima Perang Paderi itu. 

Mengapa harus dimulai dari alam spiritual? Pasalnya, politik dan spiritualitas berhubungan erat. Sejarahpun mencatat dengan tinta emas, setiap perubahan besar, itu Dimulai dari Diri Sendiri. Dari Mengenal Diri, sampai Tahu Kekuatan Diri, Sehingga Pandai Menempatkan Diri. Jadi, Perubahan Politik di Tanah Air Dimulai dari Diri-sendiri dan Sekarang Juga. Sudah sangat jelas, dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11 disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,”. 

Artinya, Allah berikan kita kesempatan untuk menjadi penentu perubahan. Kalau kita ingin Allah kasih hasil yang terbaik, tergantung kita mau bergerak dan berubah apa tidak. Ingatlah, hasil itu Allah berikan berdasarkan proses (perubahan) yang seseorang tempuh. Mau ambil kesempatan itu apa tidak? Insya Allah. Bismillah 🙏

Namun sayangnya belakangan ini, lazimnya politik dan spiritualitas dipertentangkan satu sama lain. Spiritualitas dinilai berurusan dengan yang rohani, agama, dan surga. Sedangkan politik dianggap sebagai urusan duniawi yang selalu diiringi trik, tipu-daya, kebohongan, menghalalkan cara, pengkhianatan bahkan kekerasan. Itulah unsur-unsur yang diterima oleh sebagian masyarakat dan politisi sebagai hal-hal yang melekat pada politik.

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik.

Tak heran, jika politik dipahami dengan cara seperti ini, krisis politik pun terus terjadi. Kebencian dan prasangka menjadi udara yang dihirup bersama. Fitnah dan kedangkalan berpikir menjadi warna kehidupan sehari-hari. Buahnya adalah sistem politik yang dipenuhi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Bahkan agama pun dipolitisir untuk kepentingan partai atau kelompoknya. Seperti kita lihat di banyak negara sekarang ini. Bukan mustahil juga terjadi di bumi Nusantara ini.

Hal-hal tersebut tentu saja bertentangan dengan tuntutan rohani atau spiritualitas dan makna politik yang sesungguhnya sesuai dengan Konsep Politik dalam Budaya Nusatara. Karena itulah Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu, mengajak para pemirsa untuk mendiskusikan resiprositas serta sinerji positifnya Spiritual dan Politik. Semoga kita bisa melampaui praksis buruk seperti spiritualisasi politik atau eksploitasi agama, dan mencoba menawarkan sebuah gagasan bahwa sejatinya integrasi spiritualitas dan politik adalah suatu tuntutan masuk akal dan etis.

Alasannya sederhana, karena baik spiritualitas maupun politik bertautan secara integral dalam diri manusia, yang sekaligus makhluk pribadi, sosial, dan spiritual. Ketiganya secara ontologis melekat pada diri pribadi manusia dan karenanya mesti terintegrasi dalam diri manusia, yang sehat secara spiritual dan sosial. Prinsip-prinsip moral yang kokoh senantiasa berakar pada realitas spiritual yang merupakan dimensi konstitutif dari diri pribadi manusia. 

Tanpa itu, manusia utuh dan bermartabat pribadi tidak dapat ada. Masyarakat politis berakar pada kodrat sosial manusia, selaras dengan kehendak Pencipta, yang menciptakan dan menyelamatkan manusia selalu sebagai suatu komunitas, tempat setiap manusia partisipasi dan kerjasama.

Politik berarti mengurus kesejahteraan umum. Mereka yang berpolitik mesti memilki kekuatan spiritual sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam membaktikan diri demi kesejahteraan umum.

Jadi, Islam, Politik dan Spiritual, agaknya merupakan tema yang sesuai, menggambarkan kandungan Islam yang bukan saja agama semata, melainkan juga ajaran politik yang agung.

Politik adalah aktivitas akal dan hati. Akal lah yang telah membuktikan kebenaran Islam. Setelah terbukti, hati akan meyakini. Setelah itu, ia akan mendorong setiap muslim untuk memahami dan meyakininya untuk bergerak

Dan lahirlah Gerakan Dakwah Majelis Dakwah Al-Hikmah (MDA) pada 23 Juli 1997. Gerakan Dakwah MDA mengembangkan Metode Dakwah Problem Solving. Alhamdulillah, para Ulama, Budayawan dan Pemangku Adat yang bergabung dalam Majelis Dakwah Al-Hikmah kemudian membidani lahirnya Gerakan Politik Islam Indonesia pada 20 Oktober 2016 yang dilandasi dengan kesadaran dan keyakinan. Gerakan yang tidak dapat dibunuh oleh siapapun. Orangnya disebut politisi (Ahli Siyasah). Mereka mempelajari Islam bukan untuk  menjadi ‘buku yang dapat berjalan’. Atau menjadi ‘buku’ yang dapat tidur, makan, bahkan kentut. Mereka adalah sosok Islam yang hidup. Selalu bergerak mendakwahkan Islam. Dan itulah pengemban dakwah yang sejati. 

Jadi, Gerakan Dakwah Majelis Dakwah Al-Hikmah (MDA) yang membidani kelahiran Gerakan Politik Islam Indonesia dan kemudian membentuk Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu memang dihadirkan untuk membina masa depan umat yang telah menyadari kewajiban berpolitik dan politik Islam. (az).





Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 LANGKAH MENJEMPUT HIDAYAH AGAR SELAMAT DARI DAMPAK PANDEMI CORONA

THERAPY ala Nabi SAW di RUMAH SEHAT AL-HIKMAH : Gratis KONSULTASI Spiritual 🙏

POLITIK PENCERAHAN MENUJU TATANAN DUNIA BARU INDONESIA PASCA WABAH CORONA