CORONA “MEMAKSA” KITA I’TIKAF, TAPI SAYANGNYA BANYAK YANG MENUTUP PINTU MASJID ⁉️🤭
Jakarta, SKJENIUS.COM.- Terkadang unsur terpenting untuk pembaruan spiritual adalah peristiwa bencana. Karena itu, Efek Spiritual dari wabah COVID-19 tidak dapat diabaikan. Semua peristiwa dan bencana yang kita saksikan di bumi Indonesia dan alam semesta ini, termasuk wabah Covid-19, tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melaikan sesuai kehendak dan ketentuan Rabb Penciptanya, yakni Allah Swt.
Proses Kebangkitan Spiritual memang unik dan berbeda bagi kita semua. Hal yang sama terjadi di seluruh negeri, di kota-kota kecil maupun di kota-kota besar. Kebangkitan spiritual adalah peristiwa besar yang luar biasa dalam kehidupan seorang anak manusia. Ada banyak gejala kebangkitan spiritual. Energi dan aktivitas kita, secara sadar maupun tidak didedikasikan untuk mendukung kebangkitan kuantum terhadap kebenaran dan fungsi saling ketergantungan kita kepada Yang Maha Kuasa.
Sehubungan dengan hal itulah, saya melihat telah melihat hubungan antara Kebangkitan Besar Peradaban Spiritual Nusantara dan Pandemi corona. Pasalnya, corona seakan “memaksa” Umat Islam untuk I’tikaf selama Ramadhan yang penuh Berkah ini. Namun, sayangnya sebagian besar masyarakat justru menutup pintu masjid. Mungkin mereka demikian paniknya, sehingga tak sempat lagi berpikir agar bisa tetap I’tikaf, namun tetap mengikuti Protokol Kesehatan dalam mencegah penularan virus corona⁉️😉
Nampaknya Coronavirus menyerang tubuh, tetapi juga menyerang jiwa. Sehingga Umat pun dilanda Penyakit WAHN. Padahal, jika kita mau merenung sejenak, tanpa harus melanggar Aturan Kesehatan tentu kita bisa melaksanakan I’tikaf di Masjid. Jadi, sesungguhnya berurusan dengan coronavirus adalah tantangan medis dan emosional serta berdampak kemerosotan ekonomi dan keuangan. Namun kehadiran wabah itu juga dapat membawa kita pada perjalanan spiritual (Spiritual Journey) yang indah.
Perlu kita sadari bahwa proses Kebangkitan memang membutuhkan Revolusi Spiritual. Dan Revolusi Spiritual itu di Awali dari bilik I’tikaf. Perubahan adalah bagian dari siklus kehidupan. Jika kehidupan memberi cerita, maka cerita - cerita itu didapat dari perubahan - perubahan yang terjadi. Perubahan ada waktunya, dan merupakan kodrat dari kehidupan.
Jadi, ide untuk revolusi spiritual sudah menjadi kodrat. Banyak jiwa yang memiliki ide ini, dan terus menyebar ke jiwa - jiwa yang lain. Revolusi spiritual adalah revolusi yang berkaitan dengan kesadaran. Ketika bicara tentang kesadaran, tentu hal itu juga berkaiatan erat dengan amal atau perbuatan.
Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.
Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad. (az).



Komentar
Posting Komentar